Aku ingin
kembali ke dalam pelukan ayah dan ibu, mengadu kalau dunia sudah tak sama
seperti dulu
Kian hari kian
tak kuat lagi
Rasanya, kasih
mereka lama-lama akan habis tergerus keasaman air hujan dari langit perkotaan
Aku ingin
meringkuk, kembali dalam peluk, dibelai dan dikasih lagi
Sebab aku dewasa
dan mereka menua, sementara hati dan pikiran masih kanak-kanak pendamba cinta
Aku belum bisa
menemukan yang sama—aku sadar aku tak akan bisa
Dan kesempatan
itu hanya diberi satu, kalau lengah sedikit maka semua akan habis, lalu
penyesalan akan senang melihatmu menangis
Aku tak rela
waktuku sia-sia, tetapi senantiasa dibuat dunia sibuk entah apalah jua, memecah
fokus dari tujuan utama
Rasanya, takdir
manusia itu sebenarnya sama, hanya diulang-ulang dan akhirnya menuju binasa
Namun, aku ingin
dilihat kuat, sama seperti yang mereka ceritakan kepada orang sejagat, kalau
anaknya yang dicinta itu dibuatnya bahagia
Aku juga ingin
mengelu-elukan mereka, bahwa aku mengasihi karena terkasihi, dan akhirnya dunia
pun akan menjadi surga kelak kita selalu bersama
Kelak, oh kelak
kita akan bersama
Lagi, kembali,
dan abadi—jauh dari cengkraman dunia—aku akan dilihat sedang menangis bahagia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar