Sabtu, 15 November 2025

Kumbang Tanduk


            Aku dan Kumbang Tanduk adalah teman sehidup semati,

sebab tiap kali aku terlahir kembali, kami selalu dipertemukan lagi.

            Mungkin Tuhan sedikit terlalu sayang kepada kami,

atau mungkin,

Ia hanya bertindak sesederhana melakukan tugasnya sebagai Sang Pengabul Keinginan.


            Kumbang Tanduk, secara tidak langsung, pernah memohon demikian.

            Saat itu dunia masih sangat muda—peradaban belum berkembang.

Kami masih tak lebih dari gadis belia yang menunggu dipinang.

            Sedangkan, Kumbang Tanduk adalah incaran semua orang.

            Aku sendiri juga heran; laki-laki datang dan pergi darinya,

membawa mulai dari sekuntum bunga hingga seisi peternakan.

            Ada kalanya kulihat dia berbinar. Namun setelah pertemuan ke sekian,

hal itu kemudian pudar.

            Aku sendiri juga heran; mengapa tak ada yang ia pertahankan.

 

            “Tidak ada yang sebaik kamu,” katanya.

            “Tidak ada yang sejahat tawamu ketika melihatku tersandung batu,

tapi juga setulus hatimu ketika membantuku berdiri setelah terjatuh.”

            Padahal penjelasannya tidaklah istimewa.

Asal sudah kenal, setiap orang juga bakal melakukan yang sama.

            Tetapi, pada akhirnya aku mengerti;

sesungguhnya alasan-alasan itu hanya sebatas diksi.

Seburuk apapun aku, Kumbang Tanduk akan tetap memilihku,

karena bagi dia sendiri,

aku ini berarti.


            “Andai kamu laki-laki dan kita sedekat ini,

mungkin kita sudah jadi sepasang kekasih,”

Kumbang Tanduk pernah berkata.

            Tak pernah kuiyakan, dan faktanya memang demikian.

            Aku pernah hidup sebagai pangeran,

buronan,

sandera,

bahkan saudara sedarah.

Sudah pernah kucicipi manisnya nektar bunga berduri

maupun beradu pedang merebutkan cawan suci.

Dalam perjalananku mencari surga dunia,

tak pernah kusangkutkan dia ke dalamnya.


            “Tetapi, kalau kau bertanya padaku, Kumbang Tanduk, tentu saja aku mencintaimu.”

            Akan kubuatkan dia berbait-bait berima,

dan akan kupastikan namanya ada dalam tiap karya.

Akan kutuliskan baginya lagu berbeda,

dan akan kunyanyikan padanya tiap kali ia meminta.

            Aku akan mengaku-ngaku

bahwa jiwanya adalah jiwaku,

dan ketika dia merasa hancur,

maka aku juga lebur.

            Aku ini orang setia, jangan salah.

Namun, aku tahu, yang dia maksud itu lain perkara.

            Tetapi, kupikir-pikir lagi.

Meski sering sengaja membuatnya marah,

ternyata,

aku tetap lebih suka melihatnya bahagia.

 

            “Jadi, berhentilah mengatasnamakan segalanya terhadapku,” aku berkata kepadanya,

“Kumbang Tanduk, tarik kembali permohonanmu sekarang juga.”

            Kami telah sepakat. Kumbang Tanduk pun menarik niat.

Maka dengan ini,

setelah sekian lama menapak kaki, akhirnya selesai juga kisah kami.

            Kemudian, sebelum sempat kusadari,

hari ini menjadi hari terakhir di bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matilah

  Telah lama aku hidup sendiri  tapi itu pertama kali  aku merasa tak sanggup berdiri Aku menyalahkanmu untuk segala alasan  mereka pernah m...