Aku dan Kumbang Tanduk adalah teman sehidup semati,
sebab tiap kali
aku terlahir kembali, kami selalu dipertemukan lagi.
Mungkin
Tuhan sedikit terlalu sayang kepada kami,
atau mungkin,
Ia hanya
bertindak sesederhana melakukan tugasnya sebagai Sang Pengabul Keinginan.
Kumbang Tanduk, secara tidak
langsung, pernah memohon demikian.
Saat
itu dunia masih sangat muda—peradaban belum berkembang.
Kami masih tak
lebih dari gadis belia yang menunggu dipinang.
Sedangkan, Kumbang Tanduk adalah
incaran semua orang.
Aku
sendiri juga heran; laki-laki datang dan pergi darinya,
membawa mulai
dari sekuntum bunga hingga seisi peternakan.
Ada
kalanya kulihat dia berbinar. Namun setelah pertemuan ke sekian,
hal itu kemudian
pudar.
Aku sendiri juga heran; mengapa tak
ada yang ia pertahankan.
“Tidak
ada yang sebaik kamu,” katanya.
“Tidak
ada yang sejahat tawamu ketika melihatku tersandung batu,
tapi juga
setulus hatimu ketika membantuku berdiri setelah terjatuh.”
Padahal
penjelasannya tidaklah istimewa.
Asal sudah
kenal, setiap orang juga bakal melakukan yang sama.
Tetapi,
pada akhirnya aku mengerti;
sesungguhnya
alasan-alasan itu hanya sebatas diksi.
Seburuk apapun aku, Kumbang
Tanduk akan tetap memilihku,
karena bagi dia sendiri,
aku ini berarti.
“Andai
kamu laki-laki dan kita sedekat ini,
mungkin kita sudah jadi sepasang kekasih,”
Kumbang Tanduk
pernah berkata.
Tak pernah kuiyakan, dan faktanya
memang demikian.
Aku
pernah hidup sebagai pangeran,
buronan,
sandera,
bahkan saudara sedarah.
Sudah pernah kucicipi manisnya nektar bunga berduri
maupun beradu pedang merebutkan cawan suci.
Dalam perjalananku mencari surga dunia,
tak pernah
kusangkutkan dia ke dalamnya.
“Tetapi, kalau kau bertanya padaku, Kumbang
Tanduk, tentu saja aku mencintaimu.”
Akan
kubuatkan dia berbait-bait berima,
dan akan kupastikan namanya ada dalam tiap karya.
Akan kutuliskan baginya lagu berbeda,
dan akan
kunyanyikan padanya tiap kali ia meminta.
Aku
akan mengaku-ngaku
bahwa jiwanya adalah jiwaku,
dan ketika dia merasa hancur,
maka aku juga
lebur.
Aku
ini orang setia, jangan salah.
Namun, aku tahu,
yang dia maksud itu lain perkara.
Tetapi,
kupikir-pikir lagi.
Meski sering sengaja membuatnya marah,
ternyata,
aku tetap lebih
suka melihatnya bahagia.
“Jadi,
berhentilah mengatasnamakan segalanya terhadapku,” aku berkata kepadanya,
“Kumbang Tanduk,
tarik kembali permohonanmu sekarang juga.”
Kami
telah sepakat. Kumbang Tanduk pun menarik niat.
Maka dengan ini,
setelah sekian
lama menapak kaki, akhirnya selesai juga kisah kami.
Kemudian,
sebelum sempat kusadari,
hari ini menjadi hari
terakhir di bumi.