Sabtu, 04 April 2026

Matilah

 

Telah lama aku hidup sendiri 

tapi itu pertama kali 

aku merasa tak sanggup berdiri


Aku menyalahkanmu untuk segala alasan 

mereka pernah memaafkan 

para setan yang masih bebas berkeliaran


Aku menyalahkanmu untuk segala hina 

yang takkan pernah bisa hilang 

meski terlupakan oleh ingatanku yang usang


Sebab kala itu adalah bahagia 

sampai kau datang merusak semua


Sungguh aku mengutukmu 

hingga ke anak cucu 

hingga mereka sibuk menangkal darah sama yang mengalir darimu


Kuharap di dini hari 

mereka terjaga mengingat segala dengki 

yang merayap hingga ke ulu hati


Aku ingin kau melihat mereka membubur 

oleh tangan sendiri yang pernah melacur 

hingga mereka menangis, memohon ingin hancur


Namun sekecil-kecilnya, 

kuharap mereka merasa 

hadirku datang untuk membenci


Dan sekalipun semesta mengampuni, 

aku tetap tidak sudi 

sampai kau mati oleh tanganku sendiri


...


Pertama kali ditulis pada 11 November 2025

Maaf Tidak Maaf

 
Tuhan, maafkan aku.


Maafkan aku yang tak kunjung mengindah setelah berhari-hari Engkau beri arah.

Maaf telah menjadi hamba yang bebal. Tapi, Tuhan, akan kukembalikan suci kepada-Mu bersama dengan terlepasnya belenggu hati. 

Dengan ini, Tuhan, aku ingin membawa diri tuk pergi. 


Tuhan, maafkan aku.


Maafkan aku yang tidak bisa memaaf. 

Aku sungguh tak mau, Ya Tuhan, maka maafkanlah aku. 

Di tengah kumandang kemenangan aku bersedia, bersujud pada-Mu

dan dengan begitu Engkau gugurkan segenap keberatan dari dadaku, Ya Tuhan, Engkau sungguh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 


Selasa, 10 Maret 2026

Habis Baca Apa? | Kapan Nanti

Kapan Nanti
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
2023

11/03/2026

Mbak Ziggy ini sinting (I love her). 

Ini pertama kalinya aku baca bukunya. Sebenernya, udah pernah denger namanya cukup lama, dan karyanya yang "lada-lada" itu juga sering kelihatan di toko buku. Denger-denger, tulisan beliau juga apik, dan kesan pertamaku setelah baca buku ini juga positif. Makasih kepada temanku Slm yang telah meminjamkan buku ini ke aku.

Belum selesai baca, btw. Ini buku antologi, isinya ada 8 cerita berbeda yang semua judulnya diawali huruf K, ada yang masih di universe sama tapi kebanyakan berbeda (sekilas lihat doang). 

Baru menamatkan cerita ketiga, yaitu Kering. Ini mulai beberapa halaman pertama bagian Kuping. Jujur... ada banyak yang mau dibicarakan. Pertama, bahas ragam bahasanya aja dulu deh. Nah, ini yang paling kusuka karena aku gak menyangka Mbak Ziggy ini tipe nulisnya yang "begini". Aku suka sekali gimana cerita ini gak disampaikan secara eksplisit, justru pake perumpamaan dan metafora. Aku suka gimana pembaca harus mikir dulu, sambil baca sambil mikir, karena baru bisa dapat clue ketika sudah baca baris-baris paragraf berikutnya. Shout-out lagi ke Slm yang telah meminjamkan buku ini ke aku.

Anyways. Greget banget mau bahas Kering. Menurutku ini cerita paling panjang dan paling sulit ditafsirkan (dari 4 chapter yang sudah kubaca). Setelah menamatkan Kering, melanjutkan ke bagian berikutnya itu agak terasa ringan karena bahasanya masih lebih sulit yang Kering. Itu... duh, Mbak Ziggy emang sinting (ini pujian). Mungkin habis ini aku jadi fans-nya.

Selanjutnya, mari kita bahas tentang masing-masing cerita. Spoiler alert, btw.

Cerita pertama, Kabaret, ini buat pemanasan. Bingung di awal, jelas, soalnya tiba-tiba bahas kelinci dan topeng.Kemudian, waktu selesai, baru bisa menyimpulkan kalau kelinci ini adalah seorang perempuan (atau arwahnya?) yang mendatangi ketiga gadis kecil. Untuk apa? Mungkin buat mengingatkan, mungkin cuman buat curhat. Mungkin juga memberi ketiga bocil itu arahan dan peringatan. Ez.


13/03/2026

Kemarin aku selesai baca buku ini, waktu jam istirahat di magang. Setelah selesai baca kalimat terakhir, aku narik napas panjang, terus diem dulu. Buku yang melelahkan.

Cerita-cerita setelah Kering cenderung mudah untuk dipahami. Mungkin karena cerita itu yang paling sulit. Paling mudah dan gak implisit banget itu yang tentang Moshka Vatra. Dan menurutku itu jenius, karena diceritakan dari sisi narator laki-laki. Selain itu, meskipun hubungan antara narator dan tokoh utama ini lumayan rumit, ngaco, dan toxic, aku bisa simpatik dan memahami mereka, somehow

Tokoh utama perempuan, Moshka Vatra, digambarkan senyeleneh itu. Mungkin agak sakit. Entah kenapa aku juga bisa menyalahkan kenapa dia seperti itu. Dibanding menghakimi, justru kalau ada di posisi narator, aku mau meluk dia aja...

Terakhir, cerita yang paling "ngena", yang paling jahat, dan yang paling sedih, karena sangat mencerminkan realita. Ceritanya pas banget buat mengakhiri buku, alias yang bikin menghela napas panjang. Habis merenung bentar, aku mikir, "kok sedih banget seisi buku ini? Emang hidup selalu gini?". Iya, buat sebagian orang :). Dan itu yang paling bikin sedih. Makanya, Mbak Ziggy ini gila (dalam artian bagus). Orang tuanya pasti bangga.

Senin, 19 Januari 2026

Habis Baca Apa? | The Legends of King Arthur and His Knights


The Legends of King Arthur and His Knights 
Sir James Knowles
Penerbit Qanita
2017

20/01/2026

Seingetku udah beli buku ini lumayan lama, mungkin dari waktu masih SMP, tapi entah kenapa ngerasa belum baca sampai habis. Emang belum, sih. Isinya ya kayak judulnya, seputar legenda King Arthur sama kesatrianya. Sama Merlin. 

Waktu aku pertama kali baca dan ada nama Merlin itu otomatis kebayang laki-laki boyish rambut panjang: Merlin dari FGO... di awal-awal cerita kan lumayan banyak tuh kemunculannya, nah kalau dipikir-pikir, Merlin ini kayak sok tahu banget anjir, nyuruh ini nyuruh itu. Jatuhnya pe-yapping andal, dia  ini. Orang-orang disekitarnya juga pada percaya aja.

Anyway. Aku ngerasa gak bisa menilai novel ini yang agak gimana-mana kayak catatanku yang sebelumnya soalnya ya... ini basically cerita rakyat kan ya. Jadi aku bakal nulis pendapatku tentang ceritanya aja buat lucu-lucuan, wkwkwk.

Selain kepikirnya Merlin yang Merlin FGO, aku ngerasa trope-nya classic banget kayak cerita politik biasanya: jabatan, keluarga, sama agama. Nah, selama baca ceritanya, rasanya juga agak ganjil kenapa mereka sering kali menyebut, "atas nama Tuhan" untuk ngelakuin sesuatu. Kayak... jir curang banget. Kalau backing-annya yang absolut gitu, orang-orang juga mana bisa nolak, kan ya. Belum lagi, pemuka agamanya juga hmm agak questionable. Masa di salah satu bagian, pemuka agamanya ngundang semua raja buat doa bareng buat nentuin raja terbaik buat Britain. Kan dari sini aja udah mulai mempertanyakan ya, alias, mana mungkin semua raja mau dateng. Mereka juga pasti nerima undangannya bakal kayak, "dih apaansi, mending turu". Nah ini nih, terus kalimat lanjutannya, intinya: kalau yang gak dateng bakal kena kutukan. Jirlah diancam dong. Ketawa berat. Tapi, ya, yaudahlah. Namanya juga legenda. Mungkin yang nge-narasikan dulu lupa gimana itu raja-raja semuanya pada mau dateng, terus gampangannya, yaudah mereka diancam bakal dikutuk dan karena gak ada yang mau dikutuk, yaudah pada dateng.

Belum selesai baca, sih. Bosen, jujur. Sebenernya agak ada action-nya juga sih, tapi juga gak kerasa kayak action, soalnya juga deskripsinya terlalu meng-OP-kan main character dan udah tahu pasti dia yang menang. Ini masih sampe awal-awal ketemu Guinevere sama Sir Gawain. Penasaran gimana kisah si Mordred.

Minggu, 11 Januari 2026

Habis Baca Apa? | The Golden Compass

 
The Golden Compass
Philip Pullman
Knopf Books 
1995


11/1/2026

AKHIRNYA keturutan baca fiksi favorit dari bocil semenjak film The Golden Compass (2007) ditayangin di TV. Versi ebook-nya, tentu saja.

Anyway. Beberapa tahun lalu baru tahu kalau film itu adaptasi dari novel, terus dijadikan series, tapi berhenti nonton series-nya (baru di chapter 1, padahal) gara-gara sedikit-banyak adegan yang beda dari filmnya (iya, aku mungkin udh sesering itu rewatch filmnya sampe tau adegan agak detail).

Baru chapter 3 sih, tapi... wow. Yakin ini novel buat anak? Young-adult, okelah masih bisa ngikutin. Tapi... hm. Sekilas, dari film kelihatan sangat fantasi dan positif, karena tokohnya anak kecil perempuan yang pemberani. Tapi setelah baca novelnya-- dan baru chapter 3, astaga-- ini udah bahas akademisi, politik, religion, moral... eh anak 10 tahun mana yang tau teologi, gwe tanya.

Tapi ya, karakter utamanya oke sih. Meski dia digambarin kayak "barbarian", tapi si Philip tau kalau dia lagi nulis anak-anak, yang tingkahnya ya kayak sewajarnya anak-anak. Tapi itu para scholar-nya agak ngeselin sih ya. Tapi kayaknya wajar aja sih, kalau ngebayangin para dosen di kampus sendiri disuruh ngerawat anak... eh tapi masa itu kampus gak aja fakultas pendidikannya atau apa.

Sabtu, 15 November 2025

Kumbang Tanduk


            Aku dan Kumbang Tanduk adalah teman sehidup semati,

sebab tiap kali aku terlahir kembali, kami selalu dipertemukan lagi.

            Mungkin Tuhan sedikit terlalu sayang kepada kami,

atau mungkin,

Ia hanya bertindak sesederhana melakukan tugasnya sebagai Sang Pengabul Keinginan.


            Kumbang Tanduk, secara tidak langsung, pernah memohon demikian.

            Saat itu dunia masih sangat muda—peradaban belum berkembang.

Kami masih tak lebih dari gadis belia yang menunggu dipinang.

            Sedangkan, Kumbang Tanduk adalah incaran semua orang.

            Aku sendiri juga heran; laki-laki datang dan pergi darinya,

membawa mulai dari sekuntum bunga hingga seisi peternakan.

            Ada kalanya kulihat dia berbinar. Namun setelah pertemuan ke sekian,

hal itu kemudian pudar.

            Aku sendiri juga heran; mengapa tak ada yang ia pertahankan.

 

            “Tidak ada yang sebaik kamu,” katanya.

            “Tidak ada yang sejahat tawamu ketika melihatku tersandung batu,

tapi juga setulus hatimu ketika membantuku berdiri setelah terjatuh.”

            Padahal penjelasannya tidaklah istimewa.

Asal sudah kenal, setiap orang juga bakal melakukan yang sama.

            Tetapi, pada akhirnya aku mengerti;

sesungguhnya alasan-alasan itu hanya sebatas diksi.

Seburuk apapun aku, Kumbang Tanduk akan tetap memilihku,

karena bagi dia sendiri,

aku ini berarti.


            “Andai kamu laki-laki dan kita sedekat ini,

mungkin kita sudah jadi sepasang kekasih,”

Kumbang Tanduk pernah berkata.

            Tak pernah kuiyakan, dan faktanya memang demikian.

            Aku pernah hidup sebagai pangeran,

buronan,

sandera,

bahkan saudara sedarah.

Sudah pernah kucicipi manisnya nektar bunga berduri

maupun beradu pedang merebutkan cawan suci.

Dalam perjalananku mencari surga dunia,

tak pernah kusangkutkan dia ke dalamnya.


            “Tetapi, kalau kau bertanya padaku, Kumbang Tanduk, tentu saja aku mencintaimu.”

            Akan kubuatkan dia berbait-bait berima,

dan akan kupastikan namanya ada dalam tiap karya.

Akan kutuliskan baginya lagu berbeda,

dan akan kunyanyikan padanya tiap kali ia meminta.

            Aku akan mengaku-ngaku

bahwa jiwanya adalah jiwaku,

dan ketika dia merasa hancur,

maka aku juga lebur.

            Aku ini orang setia, jangan salah.

Namun, aku tahu, yang dia maksud itu lain perkara.

            Tetapi, kupikir-pikir lagi.

Meski sering sengaja membuatnya marah,

ternyata,

aku tetap lebih suka melihatnya bahagia.

 

            “Jadi, berhentilah mengatasnamakan segalanya terhadapku,” aku berkata kepadanya,

“Kumbang Tanduk, tarik kembali permohonanmu sekarang juga.”

            Kami telah sepakat. Kumbang Tanduk pun menarik niat.

Maka dengan ini,

setelah sekian lama menapak kaki, akhirnya selesai juga kisah kami.

            Kemudian, sebelum sempat kusadari,

hari ini menjadi hari terakhir di bumi.

Minggu, 09 November 2025

Bianglala


Aku selalu naik bianglala sendiri,

Tapi tak pernah sekali merasa sepi.

Sendirian, dengan antusias mengobrol seorang diri.

Orang pikir aku gila hanya karena menjadi diri sendiri:

Melalaikan dunia namun terobsesi dengan waktu,

Abai dengan prioritas namun tekun menunda.

Kalau pengunjungnya ramai aku marah,

Kalau sunyi aku melanglang buana.

 

Bianglala ini sudah rusak, katanya.

Tapi kuhayati, ‘berubah’ itu hanya bualan para pemimpi.

Sebab kian lama kurasa kian rentan—

Siapa yang tak tahu kalau gerak bianglala berputar bagai lingkaran setan?

Rasa mual di ujung lidah itu nikmat sekali—

Pasti mereka tak pernah merasakan.

Dan pacuan jantung dan rasa nyeri di kepala itu jadi satu-satunya yang bisa buatmu bernyawa.

 

Kalau kau pernah naik bianglala, kau lihat saja,

Sampai akhirnya kita satu suara satu bualan.


Tapi, ah,

Mungkin kiamat nanti juga baru kuselesaikan.

Sabtu, 08 November 2025

Body

 

When they found my body,

That I was lying down out of breath,

I don’t want them to say that you were a friend of mine,

As you are not—at least for me.

 

My love, I told you I’ve always wanted a taste

Of your beating heart and lovely smile

That had possessed me in every dream,

Leaving me wondering why and why.

 

Oh, how I must have you now.

Let me feast on you while my mind has been consumed with lust,

Yet heart was pure of intention

Of nothing more than curiosity.

 

Let me touch your skin,

Under and below those curves,

Elsewhere against the tissues,

So, darling, I can really find out myself

How I should think about you later.

 

Let it be later—I still want to adore you

With these canines as I sink them in,

Lips apart,

Mind hazy with insanity.

 

But you are much more than a living flesh,

So even if I had taste your very being,

I would still crave more,

More, more, more

And more,

As I realized I could never truly reach the depth of your heart.


So then bend me open,

Tear me to pieces with those innocent hands,

And I will surely succumb before those eyes,

That gaze from your face,

Looking at me out of terror, maybe disgust,

Or even regret.

 

I don’t mind.

“Everything is fine” as it truly is,

Not like, “I want to die in your arms” kind of thing,

Though I’d let you if that’s what you want,

But please—please don’t put me back after you rip me apart.

 

It would be easier if you let me be,

Sprawled out as my body turned cold with time,

And when they find me, they’d think that you hated me—as I would too.

 

It would be easier that way,

Oh, how I wish it could,

But we’d surely won’t do anything wilder than staying as friends.


Jumat, 26 September 2025

Habis Baca Apa? | Animal Farm

Animal Farm
George Orwell
Harcourt, Inc.
2003


26/09/2025

Habis baca versi bahasa Inggrisnya. Surprisingly gampang dipahami, karena kukira bakal banyak diksi yang sulit, tapi ternyata bahasanya cukup lugas dan kalaupun ada makna tersurat, ya dikit-dikit doang lah... ada sih kata-kata yang nggak kuketahui (artinya dalam bahasa Indonesia), tapi gak banyak, dan mungkin emang karena literatur tulisan 1945 lah ya.
Waktu baca di pertengahan, kupikir novella ini bisa dibaca semua kalangan usia, karena meski nggak tahu makna intrinsiknya juga tetap bisa mengikuti plot dan nggak ada kata-kata kasar. Ternyata, setelah mikir gitu, ada bagian yang menjelaskan kekerasannya. Ya sudahlah. Sebenarnya, menurutku, nggak terlalu detail juga, sih. Walau, ya, pilihan kata-katanya memang apa adanya. Jadi, ya, mungkin tetap aja-- nggak bisa buat semua usia. Menurutku, bahasanya nggak dibuat terlalu muluk-muluk mungkin agar mudah dipahami orang. Ya, cerita itu sendiri aja merupakan metafora, mungkin si Orwell ini nggak mau bikin orang-orang terlalu bingung sama yang ingin dia sampaikan. 
Jadi, apakah sesuai ekspektasi? Tidak. Apakah lebih baik dari ekspektasi? Secara plot, sejujurnya tidak juga. Cerita ini simple, sekali lagi, mudah untuk dipahami. Tapi mengingat cerita ini sebenarnya membungkus situasi politik di real-life-- itu yang bikin terkesima. Pengartiannya yang "oke banget". Apalagi kalau dibandingkan dengan pemerintahan... aduhai, mengapa mirip sekali, ya? Miris.
Anyways. Menurutku, alur ceritanya mudah ditebak. Begitupun, tetap bikin geleng-geleng kepala juga. Beberapa kali aku harus diam dulu setelah baca bagian-bagian tertentu, baru bisa lanjut baca lagi. Tipikal buku di mana waktu baca harus mengambil jeda, tarik napas, terus keliling rumah atau diam merenung, baru lanjut baca lagi. Benar-benar refleksi dari masa kini, kalau kataku. Dan lagi-lagi, menurutku, buku ini bagus secara pemaknaannya: apa yang sebenarnya berusaha disampaikan dan mengapa ingin disampaikan. Selanjutnya, aku jadi penasaran, sebenarnya apa sih yang terjadi di tahun 1945? Si Orwell ini mengkritik siapa? Dan kenapa ceritanya mirip sekali dengan situasi di In--

(Serius, ini sebenarnya Orwell yang terinspirasi sama "mereka" ((gak mungkin juga)) atau "mereka" yang terinspirasi sama Orwell ((emang pernah baca?)), sih?)

(Edited: ya, okelah, sekarang sudah tercerahkan.)

Senin, 01 September 2025

Rasi Bintang


Andai terlahir kembali, bertautlah jiwa kita dalam kasih tanpa pernah bisa mewujud rupa

Pun begitu, aku akan tetap lega karena bisa mendekapmu

 

Menatap wajahmu di akhir dunia aku terpana, lantas terbisiklah kata-kata sederhana yang selama ini sulit kita cerna

Dan aku selalu menanti masa untuk menyatakan hal yang sama

 

Meski berpeluh kesah, di kehidupan ini aku tidak merasa kalah

Dalam setiap sudut, gemerlap dan gelap, aku menemukan jiwamu berpendar menyala

Dan ketika kau di sana, Rasi Bintang, aku percaya bahwa kau adalah satu dari sekian alasanku untuk meraga

 

Mungkin di kehidupan selanjutnya aku tidak di sana, mungkin kau tak sadar bahwa aku bahkan pernah singgah

Tapi bukan mengapa, kau memang layak dicinta dalam setiap pertemuan yang menghasilkan kita

 

Jadi, Rasi Bintang, pergilah kalau kau harus—

Jauh, jauh dariku yang telah larut dalam koloid bernama dunia—

Raihlah bagimu arti dari surga

Minggu, 13 Juli 2025

Surga


Aku ingin kembali ke dalam pelukan ayah dan ibu, mengadu kalau dunia sudah tak sama seperti dulu

Kian hari kian tak kuat lagi

Rasanya, kasih mereka lama-lama akan habis tergerus keasaman air hujan dari langit perkotaan

Aku ingin meringkuk, kembali dalam peluk, dibelai dan dikasih lagi

 

Sebab aku dewasa dan mereka menua, sementara hati dan pikiran masih kanak-kanak pendamba cinta

Aku belum bisa menemukan yang sama—aku sadar aku tak akan bisa

Dan kesempatan itu hanya diberi satu, kalau lengah sedikit maka semua akan habis, lalu penyesalan akan senang melihatmu menangis

 

Aku tak rela waktuku sia-sia, tetapi senantiasa dibuat dunia sibuk entah apalah jua, memecah fokus dari tujuan utama

Rasanya, takdir manusia itu sebenarnya sama, hanya diulang-ulang dan akhirnya menuju binasa

Namun, aku ingin dilihat kuat, sama seperti yang mereka ceritakan kepada orang sejagat, kalau anaknya yang dicinta itu dibuatnya bahagia

 

Aku juga ingin mengelu-elukan mereka, bahwa aku mengasihi karena terkasihi, dan akhirnya dunia pun akan menjadi surga kelak kita selalu bersama

Kelak, oh kelak kita akan bersama

Lagi, kembali, dan abadi—jauh dari cengkraman dunia—aku akan dilihat sedang menangis bahagia


Matilah

  Telah lama aku hidup sendiri  tapi itu pertama kali  aku merasa tak sanggup berdiri Aku menyalahkanmu untuk segala alasan  mereka pernah m...