Kapan Nanti
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
2023
11/03/2026
Mbak Ziggy ini sinting (I love her).
Ini pertama kalinya aku baca bukunya. Sebenernya, udah pernah denger namanya cukup lama, dan karyanya yang "lada-lada" itu juga sering kelihatan di toko buku. Denger-denger, tulisan beliau juga apik, dan kesan pertamaku setelah baca buku ini juga positif. Makasih kepada temanku Slm yang telah meminjamkan buku ini ke aku.
Belum selesai baca, btw. Ini buku antologi, isinya ada 8 cerita berbeda yang semua judulnya diawali huruf K, ada yang masih di universe sama tapi kebanyakan berbeda (sekilas lihat doang).
Baru menamatkan cerita ketiga, yaitu Kering. Ini mulai beberapa halaman pertama bagian Kuping. Jujur... ada banyak yang mau dibicarakan. Pertama, bahas ragam bahasanya aja dulu deh. Nah, ini yang paling kusuka karena aku gak menyangka Mbak Ziggy ini tipe nulisnya yang "begini". Aku suka sekali gimana cerita ini gak disampaikan secara eksplisit, justru pake perumpamaan dan metafora. Aku suka gimana pembaca harus mikir dulu, sambil baca sambil mikir, karena baru bisa dapat clue ketika sudah baca baris-baris paragraf berikutnya. Shout-out lagi ke Slm yang telah meminjamkan buku ini ke aku.
Anyways. Greget banget mau bahas Kering. Menurutku ini cerita paling panjang dan paling sulit ditafsirkan (dari 4 chapter yang sudah kubaca). Setelah menamatkan Kering, melanjutkan ke bagian berikutnya itu agak terasa ringan karena bahasanya masih lebih sulit yang Kering. Itu... duh, Mbak Ziggy emang sinting (ini pujian). Mungkin habis ini aku jadi fans-nya.
Selanjutnya, mari kita bahas tentang masing-masing cerita. Spoiler alert, btw.
Cerita pertama, Kabaret, ini buat pemanasan. Bingung di awal, jelas, soalnya tiba-tiba bahas kelinci dan topeng.Kemudian, waktu selesai, baru bisa menyimpulkan kalau kelinci ini adalah seorang perempuan (atau arwahnya?) yang mendatangi ketiga gadis kecil. Untuk apa? Mungkin buat mengingatkan, mungkin cuman buat curhat. Mungkin juga memberi ketiga bocil itu arahan dan peringatan. Ez.
13/03/2026
Kemarin aku selesai baca buku ini, waktu jam istirahat di magang. Setelah selesai baca kalimat terakhir, aku narik napas panjang, terus diem dulu. Buku yang melelahkan.
Cerita-cerita setelah Kering cenderung mudah untuk dipahami. Mungkin karena cerita itu yang paling sulit. Paling mudah dan gak implisit banget itu yang tentang Moshka Vatra. Dan menurutku itu jenius, karena diceritakan dari sisi narator laki-laki. Selain itu, meskipun hubungan antara narator dan tokoh utama ini lumayan rumit, ngaco, dan toxic, aku bisa simpatik dan memahami mereka, somehow.
Tokoh utama perempuan, Moshka Vatra, digambarkan senyeleneh itu. Mungkin agak sakit. Entah kenapa aku juga bisa menyalahkan kenapa dia seperti itu. Dibanding menghakimi, justru kalau ada di posisi narator, aku mau meluk dia aja...
Terakhir, cerita yang paling "ngena", yang paling jahat, dan yang paling sedih, karena sangat mencerminkan realita. Ceritanya pas banget buat mengakhiri buku, alias yang bikin menghela napas panjang. Habis merenung bentar, aku mikir, "kok sedih banget seisi buku ini? Emang hidup selalu gini?". Iya, buat sebagian orang :). Dan itu yang paling bikin sedih. Makanya, Mbak Ziggy ini gila (dalam artian bagus). Orang tuanya pasti bangga.