Aku selalu naik bianglala sendiri,
Tapi tak pernah sekali merasa sepi.
Sendirian, dengan antusias mengobrol seorang diri.
Orang pikir aku
gila hanya karena menjadi diri sendiri:
Melalaikan dunia
namun terobsesi dengan waktu,
Abai dengan prioritas namun tekun menunda.
Kalau
pengunjungnya ramai aku marah,
Kalau sunyi aku melanglang buana.
Bianglala ini
sudah rusak, katanya.
Tapi kuhayati, ‘berubah’ itu hanya bualan para pemimpi.
Sebab kian lama
kurasa kian rentan—
Siapa yang tak tahu kalau gerak bianglala berputar bagai lingkaran
setan?
Rasa mual di
ujung lidah itu nikmat sekali—
Pasti mereka tak
pernah merasakan.
Dan pacuan jantung dan rasa nyeri di kepala itu jadi satu-satunya yang
bisa buatmu bernyawa.
Kalau kau pernah
naik bianglala, kau lihat saja,
Sampai akhirnya kita satu suara satu bualan.
Tapi, ah,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar