Minggu, 09 November 2025

Bianglala


Aku selalu naik bianglala sendiri,

Tapi tak pernah sekali merasa sepi.

Sendirian, dengan antusias mengobrol seorang diri.

Orang pikir aku gila hanya karena menjadi diri sendiri:

Melalaikan dunia namun terobsesi dengan waktu,

Abai dengan prioritas namun tekun menunda.

Kalau pengunjungnya ramai aku marah,

Kalau sunyi aku melanglang buana.

 

Bianglala ini sudah rusak, katanya.

Tapi kuhayati, ‘berubah’ itu hanya bualan para pemimpi.

Sebab kian lama kurasa kian rentan—

Siapa yang tak tahu kalau gerak bianglala berputar bagai lingkaran setan?

Rasa mual di ujung lidah itu nikmat sekali—

Pasti mereka tak pernah merasakan.

Dan pacuan jantung dan rasa nyeri di kepala itu jadi satu-satunya yang bisa buatmu bernyawa.

 

Kalau kau pernah naik bianglala, kau lihat saja,

Sampai akhirnya kita satu suara satu bualan.


Tapi, ah,

Mungkin kiamat nanti juga baru kuselesaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Matilah

  Telah lama aku hidup sendiri  tapi itu pertama kali  aku merasa tak sanggup berdiri Aku menyalahkanmu untuk segala alasan  mereka pernah m...